3 Desa Wisata Unik di Kawasan Danau Toba: Dari Nuansa ‘Ubud’ hingga Sejarah Keadilan Masa Lalu

14 Jul 2026 2 min read No comments Wisata
Featured image

Keindahan Danau Toba sebagai salah satu keajaiban alam vulkanik terbesar di dunia memang tak terbantahkan. Selain menyajikan panorama air dan perbukitan yang memukau, kawasan Danau Toba juga dikelilingi oleh desa-desa wisata yang menyimpan keunikan lanskap, budaya, dan sejarah yang mendalam.

Jika Anda berencana berlibur ke Sumatera Utara, berikut adalah tiga desa wisata di sekitar Danau Toba yang wajib Anda kunjungi:

Nama Desa Wisata Lokasi Kabupaten Daya Tarik Utama
Desa Tigarihit Simalungun Rumah vertikal warna-warni ala Brasil dan pesona sunset Danau Toba.
Huta Siallagan Samosir Rumah Bolon berusia ratusan tahun dan Batu Persidangan peninggalan masa lalu.
Desa Wisata Tipang Humbang Hasundutan Terasering persawahan hijau mirip Ubud dan wisata kuliner Naniura.

1. Desa Tigarihit: Kampung Warna-Warni di Atas Lereng

Terletak di Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Desa Tigarihit berhasil masuk dalam jajaran 50 besar desa wisata terbaik binaan Kemenparekraf. Desa ini berjarak sekitar 78 km (hampir 2 jam perjalanan) dari Bandara Silangit.

Keistimewaan desa ini terletak pada tata letak permukimannya. Menyerupai Kampung Warna-Warni di Semarang atau permukiman ikonis di Brasil, rumah-rumah warga di Tigarihit tersusun secara vertikal di lereng bukit dan dicat dengan warna-warni cerah.

  • Puncak Tigarihit: Berada di ketinggian 1.200 mdpl tepat di bibir Danau Toba, lokasi ini menjadi spot terbaik bagi wisatawan untuk berburu panorama matahari terbenam (sunset) yang romantis.

2. Huta Siallagan: Saksi Bisu Sejarah Hukum Adat Batak

Berada di Desa Siallagan Pindaraya, Kecamatan Simanindo, kawasan ini merupakan huta (kampung) peninggalan Marga Siallagan yang dibentuk sekitar 400 tahun silam. Di lahan seluas 1,5 hingga 2 hektare ini, berdiri tegak jajaran Rumah Bolon peninggalan budaya Batak Toba yang masih ditempati keturunan raja.

Dahulu, desa ini sempat lekat dengan julukan “Desa Kanibal” karena sistem peradilan dan eksekusi masa lalunya yang sangat tegas terhadap pelaku kejahatan berat (seperti perampok atau pemerkosa).

  • Batu Persidangan: Terdapat meja dan kursi dari batu tempat raja mengadili penjahat.

  • Sejarah Eksekusi: Pada masa lalu, penjahat yang divonis mati akan dieksekusi, organ tubuh tertentu dipercaya dikonsumsi raja untuk menambah kekuatan, tubuhnya dibuang ke Danau Toba, dan kepalanya digantung di gerbang desa sebagai peringatan.

  • Akhir Tradisi: Praktik ini berakhir pada abad ke-19 seiring masuknya ajaran Kristen yang dibawa oleh misionaris Jerman, Ludwig Ingwer Nommensen. Kini, kawasan ini menjadi kebanggaan pariwisata sejarah, bahkan sempat dikunjungi delegasi W20 Summit.

3. Desa Wisata Tipang: Kepingan ‘Ubud’ di Tanah Batak

Desa Wisata Tipang yang terletak di Kecamatan Baktiraja menawarkan perpaduan pesona alam yang sangat lengkap di ketinggian 900–1.200 mdpl. Cuaca sejuk, angin semilir, dan langit biru menjadi teman setia wisatawan di sini.

Banyak yang menyebut desa ini sebagai miniatur Ubud, Bali, berkat terasering persawahan Sibara-bara yang hijau menawan.

  • Wisata Alam: Selain terasering, pengunjung bisa menikmati Air Terjun Sigota-gota, Puncak Gonting, serta Pulau Simamora (pulau kecil tak berpenghuni berbentuk kura-kura di tengah danau).

  • Wisata Sejarah & Budaya: Terdapat Batu Marbonggar, perkampungan tua dengan rumah adat Batak, serta Sarkofagus berukir topeng yang diyakini sebagai pelindung roh masyarakat terdahulu.

  • Kuliner Khas: Jangan lewatkan mencicipi Naniura, sajian sashimi ala Batak berupa ikan segar (dulu menggunakan ikan endemik Ihan, kini diganti ikan mas atau mujair) yang dimatangkan menggunakan bumbu rempah dan asam Batak (utte jungga).

  • Ekonomi Kreatif: Wisatawan juga bisa membawa pulang produk lokal unggulan seperti kopi, keripik diva, beras merah berkualitas tinggi, hingga anyaman pandan tradisional.

Author: Gabs Art

Leave a Reply

Beranda Jelajah Kategori Akun
Home
Search
Mata Bumi
Direktori
Account