Aturan Pemberian Ulos

26 Aug 2023 11 min read No comments Budaya
Featured image

This post is also available in: English

Adat Batak mengenal aturan pemberian ulos yang cukup ketat dan beragam. Beberapa aturan tersebut diantaranya adalah:

  1. Ulos harus diberikan pada saat acara-acara adat seperti pernikahan, upacara adat, atau saat ada tamu yang datang ke rumah.
  2. Ulos harus diberikan pada saat upacara adat, seperti saat seseorang menjadi guru adat atau saat seseorang menjadi pemimpin suku.
  3. Ulos harus diberikan pada saat ada tamu yang datang ke rumah. Tamu akan diberikan ulos sebagai tanda kehormatan dan simbol dari persahabatan.
  4. Ulos harus diberikan pada saat acara pernikahan. Ulos akan diberikan kepada pasangan yang akan menikah sebagai tanda kehormatan dan simbol dari persahabatan.
  5. Ulos harus diberikan pada saat acara-acara adat lainnya seperti saat ada tamu yang datang ke rumah, saat seseorang menjadi guru adat atau saat seseorang menjadi pemimpin suku.
  6. Corak ulos yang diberikan harus sesuai dengan status sosial dan keagamaan seseorang.
  7. Pemberian ulos harus dilakukan dengan tata cara yang benar dan sopan sesuai dengan adat Batak.
  8. Ulos yang diberikan harus berkualitas baik dan tidak boleh rusak.

Pemberian ulos dalam adat Batak sangat penting dan dihormati, karena ulos dianggap sebagai simbol dari persahabatan, kehormatan, dan kebersamaan.

 

ATURAN-ATURAN TENTANG PEMBERIAN ULOS

Seperti telah kita terangkan terdahulu, ulos mempu­nyai nilai yang sangat tinggi dalam upacara Adat Batak. Tidak mungkin kita berbicara mengenai Adat Batak tanpa membicarakan ulos. Ulos, hiou, olis, abit godang atu uis kese­muanya adalah merupakan identitas orang Batak.

Di wilayah Toba, Simalungun dan Tanah Karo pada­ prinsipnya pihak Hula-hula lah yang memberikan kepada par­boru (dalam perkawinan). Sedangkan di wilayah Pakpak/Dairi dan Tapanuli Selatan pihak borulah yang memberikan ulos ke pada mora atau kula kula.

Perbedaan spesifik ini bukanlah berarti mengurangi­ nilai dan makna suatu ulos dalam upacara adat. Di wilayah Toba misalnya yang berhak memberikan ulos ialah :

  1. Pihak Hula Hula (Mertua, Tulang, Bona Tulang, Bona ni ari dan Tulang rorobot).
  2. Pihak Dongan Tubu (Ayah, Saudara ayah, Kakek dan saudara pengantin dalam kedudukan yang lebih tinggi dalam urutan kekeluargaan).
  3. Pihak pariban (dalam urutan lebih tinggi dalam urutan kekeluargaan).

Adapun mengenai ale-ale (teman sejawat) yang sering kita lihat turut memberikan ulos, sebenarnya adalah di lu­ar tohonan Dalihan Natolu. Pemberian ale-ale sebaiknya benda apapun itu, diberikan dalam bentuk kado (dibungkus).

Dari uraian di atas jelas kelihatan bahwa yang ber­hak memberikan ulos adalah mereka yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi (dalam urutan kekeluargaan) dari si pene­rima ulos.

Dalam pesta kawin misalnya tata urutan pemberian u­adalah sebagai berikut :

  1. Mula mula yang memberikan ulos adalah orangtua pengantin perempuan.
  2. Baru disusul oleh pihak tulang pengantin perempuan, termasuk tulang rorobot.
  3. Kemudian menyusul pihak dongan sabutuha dari orangtua pengantin perempuan yang dalam hal ini dise­but paidua (pamarai).
  4. Kemudian disusul oleh pariban yaitu boru hula-hula (orang tua pengantin perempuan).
  5. Baru yang terakhir adalah tulang pengantin la­ki-laki, setelah kepadanya diberikan bahagian dari sinamot yang diterima parboru dari par anak, dari jumlah yang disepakati sebanyak 2/3 dari­ pihak par boru dan 1/3 dari par anak.

Bagian ini disampaikan oleh orangtua pengan­tin perempuan kepada Tulang si anak (pengantin laki-laki) Inilah yang disebut “tintin marangkup”.

TATA CARA PEMBERIAN ULOS

Menurut tata cara Adat Batak setiap orang akan me­nerima minimum 3 macam ulos dari mulai lahir sampai ak­hir hayatnya. Ulos inilah yang disebut ulos na marsintu­hu yang dapat digolongkan sebagai ulos ni tondi, menurut falsafah Dalihan Natolu.

Ketiganya ialah yang pertama diterima sewaktu dia baru lahir. Sekarang ini dikenal dengan ulos parompa. Dahulu di­kenal dengan ulos mangalo alo tondi.

Yang kedua diterima pada waktu dia memasuki ambang kehidupan baru (perkawinan) yang diterima dalam bentuk ulos hela. Dahulu disebut ulos marjabu bagi kedua pengantin (laki dan perempuan).

Yang ketiga adalah ulos yang diterimanya sewaktu dia meninggalkan dunia yang fana (ulos saput). Kedudukan seorang yang meninggal menentukan jenis ulos yang diterimanya sebagai saput, tergantung pada saat mana dia neninggal.

Bila seorang meninggal dalam usia yang masih muda atau meninggal tanpa meninggalkan keturunan (mate hadia­ranna) maka kepadanya diberikan ulos yang disebut “ulos ­par olang-olangan”.

Bila dia meninggal dan meninggalkan anak-anak yang masih kecil-kecil (sapsap mardum), bila laki-laki di sebut “matipul ulu”, bila perempuan disebut “marompas tataring” maka kepadanya diberi ulos saput.

Bila dia meninggal sari/saur matua maka dia men­dapat “ulos panggabei” yang diterima dari semua hula-hu­la baik hula-hulanya sendiri, hula-hula ni anak, maupun hula-hula cucunya. Biasanya ulos panggabei ini diterima oleh seluruh turunannya. Pada saat seperti inilah berja­lan ulos “JUGIA”. Sebagai catatan : maka sesuai dengan namanya “Ulos na so ra pipot” Ju­gia hanya dapat diberikan kepada orang tua yang turunan­nya belum ada yang meninggal (martilahu matua).

I. PADA WAKTU ANAK LAHIR

Bila anak lahir, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, apakah anak yang lahir tersebut anak sulung atau tidak. Dan yang kedua, apakah anak tersebut anak sulung dari seorang anak sulung dari satu keluarga.

Pada punt pertama, bila yang lahir tersebut ada­lah anak sulung dari seorang ayah yang bukan anak sulung maka yang mampe goar disamping si anak, hanyalah orang tuanya saja (mar amani…).

Sedang bila anak tersebut adalah anak sulung dari seorang anak sulung pada satu keluarga maka yang mampe goar di samping si anak, juga ayah dan kakeknya (mar ama ni … dan Ompuni…).

Perlu diperhatikan pada gelar Ompu…Bila gelar tersebut mempunyai kata sisipan si… maka gelar diperoleh itu diperoleh dari anak sulung perempuan (Ompung Bao).

Sedang bilamana tidak mendapat kata sisipan si… maka gelar Ompu yang diterimanya berasal dari anak su­lung laki-laki (Ompung suhut).

Untuk punt pertama, maka pihak hula-hula hanya menyediakan 2 buah ulos yaitu ulos parompa untuk si anak dan ulos pargomgom mampe goar untuk ayahnya. Untuk si anak sebagai parompa dapat diberikan ulos mangiring dan untuk ayahnya dapat diberikan ulos suri suri ganjang atau sito luntuho.

Untuk punt kedua hula hula harus menyediakan ulos sebanyak 3 buah, yaitu ulos parompa untuk anak, ulos par gomgom untuk ayah dan ulos bulang bulang untuk ompungnya.

Seiring dengan pemberian ulos kata kata ini sering diucapkan sbb :­

“Ucok (Tatap). Sadarion nunga pinuka goarmu. Sai anggiat ma goar mi goar marsarak, goar na mura jou jou on, hipas hipas ho mamboan. Dison pasahaton nami ma tu ho ulos pangiring, asa mangiring anak dohot boru ho sian on tu joloan on. Horas ma”.

Catatan:

Bila acara mampe goar ulos yang diberi­kan harus dari jenis Bintang Maratur. Tapi bila hanya sekedar memberi ulos parompa boleh ulos mangiring.

Di hamu hela/boru nami. Mulai sadari on marbonsir naung pinungka goar ni buha baju muna, sadarion ­mulai mampe goar hamu mar amani dohot mar ina ni….Dison pasahaton nami ma tu hamu ulos suri su­ri ganjang, asa ganjang umurmu mamboan goar pang­goari ni pahompu i. Hata ni umpama ma dohonon na­mi :

“Tubu ma hariara, di atas ni tor na di ginjang, lehet ma i borotan ni horbo si opat pusoran. Mantak goar si jou jou on ma i, hipas jala mariang, goar na mura jouon, dirgak bohi mamboan.”

“Kakek/nenek: Di hamu Lae dohot ito. Dibagasan sa­ darion ditonga ni jabu na marsangap na martua on, ima jabu sigomgom pangisi na on marlas ni roha hita, ala nunga jumpang na ni luluan, tarida na ji­nalahan. Mulai sadari on mampe goar do hamu Lae, Ito, mar Ompuni… ala marbonsir sian goar ni pa­hompunta na ta pungka sadari on. Hupasahat hami ma tu hamu ulos ragi-idup songon patuduhon balga ni roha nami. Hata ni umpama do­henan nami di hamu :

Andor hadumpang ma togu togu ni lombu, Saur matua ma hamu Lae Ito, mambo an goar i huhut mangiring-iring pahompu.

Begitulah antara lain tata caranya dan mengenai ­pepatah petitih biasanya terdiri dari 3 buah.

II. PADA WAKTU PERKAWINAN

Dalam upacara perkawinan maka pihak hula hula ha­rus menyediakan ulos si tot ni pansa yaitu :

  1. Ulos marjabu (hela dohot boru).
  2. Ulos pansamot/pargomgom untuk orang tua pengantin laki-laki.
  3. Ulos pamarai diberikan kepada Saudara yang le­bih tua dari Pengantin laki-laki atau saudara kandung ayah.
  4. Ulos Simolohon diberikan kepada iboto pengan­tin laki-laki atau bila belum ada yang menikah kepada iboto ayahnya.

Adapun ulos tutup ni ampang diterima oleh boru di ampuan hanya bila perkawinan tersebut dilakukan ditempat pihak keluarga perempuan (dialap jual). Bila perkawinan ­tersebut dilakukan ditempat keluarga laki-laki (ditaruhon jual) ulos tutup ni ampang tidak diberikan.

Sering kita lihat banyak ulos yang diberikan kepada pengantin oleh keluarga keluarga dekat. Dahulu ulos inilah yang disebut ragi ragi ni sinamot. Biasanya yang mendapat ragi ni sinamot (menerima sebagian dari sina­mot) memberi ulos sebagai imbalannya. Dalam umpama Batak disebut:

“malo manapol – ingkon mananggal”

Umpasa ini mengandung pengertian orang Batak itu tidak mati terutang Adat. Tetapi dengan adanya istilah rambu pinudun yang dimaksudkan semula untuk mempersingkat waktu, berakibat kaburnya siapa penerima golo goli dari ragi ragi ni sinamot. Ini berakibat timbulnya kedudukan yang­ tidak sepatutnya (mar goli-goli) sehingga yang pantas dapat digantikan oleh undangan umum (ale-ale). Dengan da­lih istilah ulos holong memberikan pula ulos kepada Pe­ngantin. Padahal istilah ulos holong adalah di luar versi Dalihan Natolu.

Binanga ni Sihombing ma, binongkak di Tara­bunga, Tu sanggar ma amporik, tu lubang ma satua, sai sinur ma na pinahan, gabe na ni u1a.

Setelah diulosi kemudian dijemput sedikit beras (boras si pir ni tondi) ditaburkan baik kepada umum dengan mengucapkan “HORAS” tiga ka1i.

Kemudian menyusul pemberian ulos kepada orang tua pengantin laki-laki (wakilnya). Umpasa berikut sering disampaikan seiring dengan pemberian ulos :

“Jongjong do hami dison lae, ito, pasahathon sada u1os na margoar ulos pansamot tu hamu siala naung hujalo hami sinamotmu, marbonsir diulaonta sada rion. Jala laos on ma ito, lae ulos pargomgom asa mu1ai sadarion, gomgomonmu ma anakmu dohot parumaen mu”.

Songon nidok ni umpasa ma :

“manginsir ma sidohar, di uma ni Palipi, tu deak nama hamu marpinompar, jala bagasmu sitorop pangisi. Andor hudumpang ma togu togu ni lombu, sai saur matua ma hamu, Lae-ito, huhut mangiring iring pahompu.

Songon panutup ito :

Sahat sahat ni solu ma sahat tu bonte­an, nunga saut maksud dohot tahinta, sai sahat ma tu parhorasan, sahat panggabean.

Sesudah itu berjalanlah pemberian ulos (si tot ni pansa) kepada pamarai dan simolohon. pemberian ulos ini biasa­nya diwakilkan kepada suhut paidua.

Setelah ulos ulos lainnya berjalan maka sebagai penutup adalah pemberian ulos dari tulang laki-laki di­sebut ulos panggabei. Ini dilaksanakan setelah acara pemberian “tintin marangkup”.

III. ULOS PADA UPACARA KEMATIAN

Ulos yang ketiga dan yang terakhir yang diberi­kan pada seseorang ialah ulos yang diterimanya pada waktu dia meninggal dunia. Tingkat kematian seseorang me­nentukan jenis ulos yang dapat diterimanya. Jika seorang mati muda (mate hadiaranna) maka ulos yang diterimanya, ialah ulos yang disebut ulos “parolang olangan dan biasanya dari jenis parompa. Bila seorang meninggal sesu­dah berkeluarga (matipul ulu, marompas tataring) maka ­kepadanya diberikan ulos saput dan yang tinggal (balu, janda) diberikan ulos tujung. Sedang bila orang mati sari/saur matua maka kepadanya diberikan ulos “panggabei”.

Khusus tentang ulos Saput dan tujung perlu dite­gaskan tentang pemberiannya. Menurut para orang tua, yang memberikan saput ialah pihak Tulang sebagai bukti bah­wa tulang masih tetap ada hubungannya dengan berenya. Sedang ulos tujung diberikan oleh pihak Hula-Hula. Ini penting untuk jangan lagi terulang pemberian yang salah.

Tata Cara Pemberiannya :

Bila yang meninggal seorang anak (belum berkeluarga), ­maka tidak ada acara pemberian saput. Bila yang meninggal adalah orang yang sudah berkeluarga maka setelah hula hula mendapat/mendengar kabar tentang ini, maka di­sediakanlah sebuah ulos untuk tujung dan pihak Tulang menyediakan ulos saput.

Pada waktu pemberian saput dari Tulang :

“Dison bere hupasahat hami dope sada ulos tu songon saput ni dagingmu, ulos parpudi laho mnopot sambulom. Songon tanda do on na dohot hami mar habot ni roha di halalaom. Pabulus roham, topot ma ingananmu rap dohot Tuhanta patulus pardalanmu”.

Kemudian pihak Hula Hula memberikan tujung :

“Sadarion (ito, hela) pasahaton nami do tuho ulos tujung. Beha bahenon (ito, hela), nunga songoni ­huroha bagianmu, marbahir siubeonmu, sambor ni­pim mabalu ho. Alani i unduk ma panailim marnida halak, patoru ma dirim marningot Tuhan. Songon ­nidok ni umpasama dohonon nami” :

Hotang binebe bebe, hotang pinulos-pulos, Unang iba mandele, ai godang do tudos-tudos.

Setelah beberapa hari berselang maka dilanjutkan dengan acara mengungkap tujung yang dilakukan oleh pihak Hula ­Hula. Mengenai waktunya tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Hula-hula menyediakan beras dipiring, air bersih mencuci muka dari air putih satu gelas. Acara di­buat pada waktu pagi (parnangkok ni mata ni ari). Kata-kata ini mengiringi acara tersebut :

“Sadarion ungkapon nami ma tujung on sian simanjujungmu. Asa ungkap na ari matiur, ungkap silas ­ni roha tu hamu di joloanon, Husuapi ma (dainang/helangku) asa bolong sude ilu ilum, na mambahen­ golap panailim”.

“Sai bagot na ma dungdung ma tu pilo-pilo na marajar, sai mago ma na lungun tu joloanon, ro ma na jagar.

Dison muse nek sitio-tio inum (dainang, laengku) ma on, sai tio ma panggabean, tio parhorasan di hamu tu joloan on. Huhut dison boras si pir ni tondi, sai pir ma nang tondim :

Martantan ma baringin, marurat jabi jabi, horas ma tondi madingin, tumpakon ni Mulajadi.

Beras kemudian dijemput lalu ditaburkan di atas kepala sebanyak tiga kali. Biasanya seluruh anak yang ditinggal si mati dicuci mukanya dan ditaburkan beras di atas ke­palanya.

Dahulu kepada si pemberi ulos biasanya diberikan ­piso piso sebagai panggarar adat. Sekarang ini sering­diganti dengan uang.

MEMBERI ULOS PANGGABEI

Bila seorang orang tua yang sari/saur matua me­ninggal dunia, maka seluruh hula hula akan memberi ulos yang disebut ulos panggabei. Dan biasanya ulos ini ti­dak lagi diberikan kepada yang meninggal akan tetapi kepada seluruh turunannya (anak, pahompu dan cicit).

Kata kata berikut mengiringi pemberian ulos ter­sebut :

“Di hamu pomparan ni Lae nami (Amang boru) on. Di son hupasahat hami tu hamu, sada ulos panggabei. Ulos on ulos panggabei, Sai mangulosi panggabean ma on, mangulosi parhorason, mangulosi daging do hot tondimu hamu sude pomparan ni Lae (amang bo­ru) on. Horas ma dihita sude …”

Biasanya ulos ini jumlahnya sesuai dengan urutan hula hula mulai dari hula hula, bona tulang, bona niari dan seluruh hula hula anaknya maupun hula hula cucunya.

Acara kematian untuk orang tua seperti ini mema­kan waktu yang sangat lama dan biaya yang cukup besar.

Author: Bang Ferry

Share:

Tinggalkan Balasan