Kota Medan dikenal luas sebagai kuali peleburan (melting pot) multietnis di Indonesia, tempat bertemunya suku Batak, Jawa, Melayu, Tionghoa, hingga India. Di tengah keberagaman ini, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang tidak dibangun oleh pemerintah kolonial Barat, melainkan oleh seorang perantau asal Tiongkok. Bangunan ikonik tersebut adalah Tjong A Fie Mansion.
Terletak strategis di Jalan Ahmad Yani, Kesawan, Kota Medan, rumah besar ini dibangun pada tahun 1900. Setelah melewati satu abad perjalanan waktu, cagar budaya ini resmi dibuka untuk umum sebagai objek wisata sejarah pada tahun 2009, bertepatan dengan perayaan hari lahir Tjong A Fie yang ke-150.
Perjalanan Hidup: Dari Pelayan Toko Menjadi Konglomerat Perkebunan
Kisah Tjong A Fie adalah potret nyata dari perjuangan keras seorang imigran (rags-to-riches). Ia lahir di Guangdong, Tiongkok, dan memutuskan merantau ke wilayah Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 dengan modal seadanya, menyusul sang kakak yang telah lebih dahulu menetap di Sumatera.
Setibanya di tanah Deli, Tjong A Fie memulai segalanya dari bawah dengan melakukan berbagai pekerjaan serabutan:
-
Pekerja Toko Kelontong: Menjadi pelayan toko sembari mempelajari dinamika perdagangan lokal dan bahasa masyarakat sekitar.
-
Sektor Perkebunan: Bekerja keras di wilayah perkebunan kelapa sawit dan karet yang saat itu sedang tumbuh pesat di Sumatera Utara.
Berkat kecerdasan, kejujuran, dan kegigihannya, karier bisnisnya melonjak tajam. Tjong A Fie berhasil mencatatkan namanya sebagai pengusaha etnis Tionghoa pertama yang memiliki gurita bisnis perkebunan kelapa sawit dan karet yang sangat luas, bahkan ekspansinya mencapai wilayah Sumatera Barat. Ia pun bertransformasi menjadi bankir terpandang dan miliarder yang sangat disegani di Asia Tenggara.
Simbol Toleransi dan Kedekatan dengan Sultan Deli
Hal yang membuat figur Tjong A Fie abadi di hati masyarakat Medan bukanlah sekadar tumpukan kekayaannya, melainkan wataknya yang dermawan dan inklusif. Ia dikenal sebagai diplomat ulung yang mampu merangkul semua kalangan. Tjong A Fie menjalin hubungan baik dengan pemerintah kolonial Belanda, berkarib dekat dengan Sultan Deli, dan dihormati oleh komunitas pekerja pribumi.
Ketika terjadi konflik antaretnis di masyarakat Medan yang heterogen, ia kerap turun tangan langsung sebagai penengah yang adil. Salah satu bukti toleransi nyatanya yang paling monumental adalah kontribusi finansialnya yang besar dalam mendanai pembangunan Masjid Lama Gang Bengkok, masjid tertua kedua di Medan yang diperuntukkan bagi umat Muslim Melayu. Prinsip hidup berdampingan secara damai ini dipesankan secara kuat oleh Tjong A Fie kepada seluruh anak-cucunya agar terus dijalankan hingga hari ini.
Warisan Arsitektur yang Tak Lekang oleh Waktu
Kemegahan Tjong A Fie Mansion mencerminkan perpaduan selera visualnya yang tinggi. Rumah dua lantai ini mengadopsi arsitektur bergaya Tiongkok, Eropa (Art Deco), dan Melayu. Keindahan detail interiornya, ukiran kayu berlapis emas, halaman tengah terbuka (courtyard) khas rumah Tiongkok kuno, serta deretan foto dokumentasi sejarah keluarga Kes Sultan Deli dan Tjong A Fie yang terpajang di dalamnya, membuat bangunan ini menjadi mesin waktu yang estetis.
Tjong A Fie Mansion kini telah menjadi landmark utama pariwisata Sumatera Utara. Mengunjungi rumah ini tidak hanya memberikan wawasan visual mengenai kemewahan masa lalu, tetapi juga mengajarkan esensi nilai kerja keras, kedermawanan, serta harmoni keberagaman etnis di tanah Deli.



Leave a Reply