Dua Peneliti Adu Gagasan soal Temuan Piramid Toba

20 Jul 2026 2 min read No comments Berita Terkini
Featured image

Kawasan Danau Toba, Sumatera Utara, kembali menjadi sorotan. Kali ini bukan hanya karena pesona alamnya, melainkan karena mencuatnya klaim penemuan sebuah struktur geologis yang menyerupai piramida. Temuan ini memicu perdebatan dan adu gagasan yang hangat di kalangan peneliti, khususnya antara pakar geologi dan pakar arkeologi.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai dua sudut pandang berbeda terkait misteri “Piramida Toba”.

A. Klaim Penemuan oleh Danny Hilman Natawidjaja (Geolog)

Klaim awal mengenai keberadaan piramida ini dilontarkan oleh Danny Hilman Natawidjaja, Profesor Riset dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi di BRIN. Penemuan ini berawal dari ketidaksengajaan saat ia sedang meneliti jalur gempa di kawasan tersebut.

  • Karakteristik Fisik: Menurut Danny, struktur batuan yang diduga piramida tersebut berukuran sangat besar dengan ketinggian mencapai 120 meter. Strukturnya menempel pada lapisan bukit Toba Tuff (batuan berpori hasil abu vulkanik) yang diperkirakan berusia 74.000 tahun.

  • Tersamar oleh Alam: Dari pengamatannya, hipotesis awal menunjukkan struktur tersebut bukan murni bentukan alam. Tampilannya seperti bunglon karena susunan bangunannya tersamarkan oleh pepohonan dan belukar lebat. Masyarakat sekitar menjulukinya “Bukit A” karena bentuk segitiganya.

  • Publikasi yang Prematur: Danny sebelumnya telah mempresentasikan temuan ini di hadapan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, pada April 2023. Meski ia mengakui bahwa publikasi ini masih terlalu dini (prematur) dan membutuhkan penelitian lebih lanjut, ia merasa harus merilisnya ke publik seiring dengan tingginya atensi dan kunjungan kerja kementerian ke lokasi tersebut.

B. Bantahan Tegas dari Truman Simanjuntak (Arkeolog Senior)

Klaim penemuan piramida ini memicu keraguan besar dari kalangan arkeolog. Truman Simanjuntak, Arkeolog Senior sekaligus peneliti di Center for Prehistory and Austronesian Studies, memberikan bantahan tegas berdasarkan tinjauan sejarah dan kebudayaan Nusantara.

  • Bukan Budaya Leluhur Nusantara: Truman menegaskan bahwa leluhur Nusantara, termasuk Suku Batak, tidak pernah mengenal atau memiliki budaya membangun struktur piramida layaknya di Mesir. Hal ini juga dibuktikan dengan tidak adanya satupun catatan dalam naskah kuno Batak (baik di kulit bambu maupun dedaunan) yang menyebutkan keberadaan piramida.

  • Konteks Historis yang Mustahil: Menanggapi spekulasi bahwa piramida tersebut bisa berusia puluhan ribu tahun, Truman menyebutnya sebagai hal yang tidak masuk akal (nonsense). Di seluruh dunia, kebudayaan Megalitik tertua (seperti di Eropa) hanya berumur sekitar 5.000 hingga 6.000 tahun yang lalu. Tidak mungkin ada struktur megalitik yang berumur hingga 20.000 tahun.

  • Alternatif Penjelasan Arkeologis: Truman menyimpulkan bahwa jika memang ada campur tangan manusia pada struktur batuan tersebut, itu jelas bukan piramida. Struktur semacam itu lebih masuk akal jika merupakan punden berundak, benteng, atau pagar batu megalitik kuno yang biasa digunakan untuk mengelilingi sebuah perkampungan masa lampau.

Menanti Pembuktian Saintifik

Saat ini, publik dan komunitas ilmiah masih menanti apakah klaim penemuan struktur piramida di Danau Toba tersebut bisa dibuktikan kebenarannya secara saintifik. Danny Hilman mengaku tengah berproses mempersiapkan penelitian awal secara komprehensif. Diharapkan, kolaborasi riset yang melibatkan penelitian multidisiplin (geologi, arkeologi, dan sejarah) segera dilakukan agar misteri di balik “Bukit A” Danau Toba ini dapat terpecahkan secara ilmiah dan faktual.

Author: Bang Ido

I like travel

Share:

Leave a Reply

Beranda Jelajah Kategori Akun
Home
Search
Mata Bumi
Direktori
Account