Senja kian pekat menjelang magrib saat kami menapaki kebun bertajuk lebat di kawasan Batu Layang, Sibolangit. Langkah kami petang itu dituntun oleh Pasta Sembiring, seorang petani lokal berkulit gelap.
“Tidak jauh, hanya sepuluh menit,” ujar Pasta meyakinkan kami yang tak bisa menebak seberapa jauh persisnya letak gubuknya. Namun tak lama, ia berkelakar, “Masih lima belas menit lagi,” yang sontak membuat kami terkesiap membayangkan tubuh yang akan semakin berpeluh. Nyatanya, hanya beberapa langkah dari situ, sebuah gubuk sederhana samar-samar mulai terlihat.
Sensasi Berburu Durian Runtuh
Setibanya di gubuk, Pasta segera menyibak barang-barangnya untuk mencari sisa panen. Sayangnya, karena baru saja dikunjungi kerabat, durian yang tersisa tidak banyak. Ia pun bergegas memulung durian runtuh di sekitar kebun yang kian gelap.
Meski hanya berhasil mengumpulkan empat butir durian—dua di antaranya berlubang hasil seleksi alami binatang yang menjadi jaminan kematangan sempurna—jumlah itu sudah lebih dari cukup. Sepanjang hari, perut kami sebenarnya sudah sesak dan lambung memanas akibat terlalu banyak makan durian. Namun, lidah kami tak kuasa menolak paduan rasa manis dan pahit khas buah berkulit duri ini. Cita rasa durian Sibolangit sukses mengalahkan aromanya yang tajam.
Urat Nadi Ekonomi Deliserdang
Buah beraroma khas ini bukan sekadar penganan lezat, melainkan berkah yang menggerakkan roda ekonomi warga Deliserdang. Ketika musim panen tiba, kebahagiaan terpancar di wajah para petani.
Jejak durian Sibolangit menyebar luas. Tidak hanya dijajakan di tepi jalan raya, durian ini didistribusikan hingga ke berbagai wilayah:
-
Medan
-
Tanjung Morawa
-
Lubuk Pakam
-
DKI Jakarta
Sebagai contoh, rumah makan Woong Rame di Tanjung Morawa turut melayani pengiriman paket durian ke Ibu Kota. “Satu kardus seberat 25 kilogram kira-kira berisi 15 durian. Harganya 650 ribu rupiah, sudah sampai Jakarta,” jelas pengelola restoran sambil melirik tumpukan kardus yang siap kirim.
Kearifan Lokal Sistem Polikultur
Kualitas durian yang prima ini tak lepas dari faktor alam. Tanah vulkanik yang subur di sebelah utara Danau Toba menjadi media tanam ideal bagi berbagai komoditas tropis, mulai dari kopi, kakao, karet, hingga pinang.
Di lahan seluas kurang lebih satu hektare miliknya, Pasta menerapkan sistem polikultur (tumpang sari), kebalikan dari sistem monokultur. Di bawah remang malam, kebunnya menampakkan tajuk tanaman yang berlapis-lapis. Durian, kakao, kopi, dan petai tumbuh berdampingan, dipupuk secara alami menggunakan kotoran kambing ternak yang juga ia pelihara di sana.
Praktik inilah yang melahirkan sebuah gurauan populer di kalangan warga Sibolangit: “Durian sehektar, kopi sehektar, kakao sehektar”. Kelakar ini bermakna bahwa dalam sebidang lahan seluas satu hektare, terdapat beragam jenis tumbuhan yang memberikan hasil panen berlipat ganda, sebuah kearifan lokal yang telah dipraktikkan turun-temurun.
Kisah ini diadaptasi dari sisipan National Geographic Indonesia, “Deliserdang: Penyandang Gerbang Barat Tanah Air”.



Leave a Reply