Menyusuri Danau di Atas Danau, Sisi Lain Wajah Danau Toba

20 Aug 2023 4 min read No comments Tips Wisata
Featured image

Semua tempat yang akan kita lintasi ini pada dasarnya adalah bagian-bagian di dalam sebuah kawah raksasa atau kaldera dari super volcano purba, Gunung Toba, yang dahsyat itu.

Kali ini kita akan melanjutkan perjalanan untuk melihat sisi lain wajah kaldera Toba di rute perjalanan searah berikutnya dari geosite Tuktuk, menuju desa wisata Tomok, lalu ke desa Huta Ginjang, untuk seterusnya menuju lokasi danau di atas danau Toba.

Adalah danau Aek Natonang. Danau ini berlokasi di Desa Tanjungan, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

Jarak dari kawasan wisata Tuktuk Siadong ke danau Aek Natonang sekitar 24 km, dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 48 menit. Kondisi jalan beraspal hotmix, tapi pengendara patut selalu waspada karena jalanan berliku dan terus menanjak menuju lokasi yang berada di ketinggian 1.499 mdpl, dan ada beberapa titik bekas longsoran yang cukup rawan bagi keselamatan pengendara.

Selain itu, di beberapa titik kita bisa menyaksikan air terjun yang mengalir dari atas bukit menyusuri tebing-tebing. Ada yang berada tepat di pinggir jalan, dan ada juga yang hanya bisa dilihat dari kejauhan.

 

 

Air terjun di pinggir jalan menuju danau Aek Natonang (Dok. Pribadi)

Air terjun di pinggir jalan menuju danau Aek Natonang

 

Sepanjang perjalanan sering kali kita jumpai ternak kerbau warga, entah sendiri-sendiri atau dalam kawanan, yang merumput di hamparan padang rumput mirip sabana yang banyak terdapat di tempat ini. Sesekali tampak pula anak-anak yang berjalan menyusuri jalan, karena memang tidak ada jasa angkutan umum menuju ke desa Tanjungan ini.

Rumah warga yang menyatu dengan lahan pengembalaan di rute perjalanan menuju danau Aek Natonang (Dok. Pribadi)

Rumah warga yang menyatu dengan lahan pengembalaan di rute perjalanan menuju danau Aek Natonang

 

Aek Natonang berarti air yang tenang. Karena letaknya di atas puncak bukit pulau Samosir maka wajarlah disebut sebagai danau di atas danau. Pulau Samosir sendiri berada di tengah Danau Toba.

Menariknya, sumber air untuk danau yang bisa juga dikatakan sebagai embung raksasa ini adalah langsung dari dalam perut bumi dan tentu saja ditambah air hujan yang tertampung sedemikian rupa. Selain sebagai sumber pengairan bagi sawah warga, sumber air minum untuk ternak, tentu saja menjadi lokasi wisata yang potensial.

 

 

 

Sumber air danau Aek Natonang dari dalam perut bumi (Dok. Pribadi)
Sumber air danau Aek Natonang dari dalam perut bumi

 

Kawasan Danau Aek Natonang ini rencananya akan dijadikan sebagai kawasan kebun botani atau arboretum untuk tujuan wisata, dengan luas area sekitar 65 hektar. Panorama danau ini terasa semakin lengkap dengan padang rumput seperti sabana yang dikelilingi hutan pinus.

Untuk masuk ke lokasi dipungut biaya seharga Rp5.000 per orang. Di sekitar tempat parkir juga sudah mulai ada penduduk yang berjualan makanan dan minuman ringan. Harganya juga sama dengan harga standar di warung-warung pada umumnya.

 

 

Foto aerial Tao Sidihoni yang bersanding dengan Danau Toba dan gagahnya Gunung Pusuk Buhit. (Fit Hartoyo via laketoba.travel) 

Foto aerial Tao Sidihoni yang bersanding dengan Danau Toba dan gagahnya Gunung Pusuk Buhit. (Fit Hartoyo via laketoba.travel)

 

 

Ternyata Danau di atas Danau Toba Tidak Hanya Satu

Dari danau Aek Natonang kami memutuskan memilih jalan alternatif melalui Ronggur Nihuta untuk menuju ke jembatan Tano Ponggol di Pangururan. Rute sejauh 36 km ini dapat ditempuh dalam 1 jam 8 menit perjalanan.

Rute ini bisa dibilang adalah lintasan jalan beraspal yang paling tinggi di Samosir. Jalan terentang sepanjang puncak bukit melalui hutan, di mana sebelah kiri jalan vegetasinya beragam sedangkan sebelah kanan jalan vegetasinya didominasi pepohonan eukaliptus atau kayu putih.

Di beberapa titik rute perjalanan ini, kita juga bisa menemukan banyak embung mulai dari yang berukuran kecil hingga yang cukup luas. Sekitar 8 kilometer menjelang Pangururan, kita akan menemukan salah satu embung yang sangat luas, yang dinamakan danau Sidihoni.

 

 

Danau Sidihoni (Sumber foto: medan.tribunnews.com)
Danau Sidihoni (Sumber foto: medan.tribunnews.com)

Luas danau ini lebih kurang 50 rante atau sekitar 20.000 m2 atau 2 hektar. Rante adalah satuan ukuran luas yang banyak dipakai oleh masyarakat tradisional di Sumatera Utara, di mana ukuran 1 rante setara dengan 400m2.

Walaupun danau Sidihoni bisa dikatakan berada di puncak daratan, tapi airnya tidak pernah kering. Semula danau ini bernama “diahoni”, yang artinya diantar makanannya.

 

Menurut cerita masyarakat setempat, konon dahulu kala lahir seorang anak yang punya kelainan. Orangtuanya yang merasa bahwa anaknya tidak normal, mengantar anak itu ke tempat yang diyakini kemudian menjadi lokasi danau ini kini.

Agar anak yang baru lahir itu tetap hidup, maka diantarlah makanannya setiap hari ke tempat itu. Lama-kelamaan, muncul air dan semakin bertambah banyak sehingga tempat itu menjadi sebuah danau yang kemudian disebut Tao Sidihoni.

Sementara itu, mengutip penjelasan Vice General Manager Toba Caldera Geopark, Gagarin Sembiring, yang dilansir dari laman laketoba.travel, bahwa pembentukan Sidihoni menjadi danau tidak berkaitan lagi dengan proses erupsi Toba. Sidihoni terbentuk bersamaan dengan terangkatnya Samosir.

Sidihoni tercipta akibat pembentukan sistem cekungan, dampak dari patahan lokal hasil kegiatan tektonik. Saat cekungan terbentuk, terjadi pelarutan-pelarutan.

Endapan danau pun ada yang bersifat lempung atau kedap air. Endapan batuan lempung tersebut menjadi penahan air yang melapisi cekungan sehingga mampu menampung air hujan dengan proses meteroid.

Hamparan air yang tenang semakin cantik karena dikelilingi padang rumput yang berbukit-bukit, dan diselingi pohon-pohon pinus di beberapa bagiannya. Selain itu ada sebuah bangunan gereja yang tampak kecil dari kejauhan, berada di atas bukit di dekat danau di tengah padang rumput.

 

 

Gereja di atas bukit di dekat Danau Sidihoni (Sumber foto: www.ninna.id)

Gereja di atas bukit di dekat Danau Sidihoni (Sumber foto: www.ninna.id)

 

Gereja di atas bukit di dekat Danau Sidihoni (Sumber foto: www.ninna.id)

Gereja di atas bukit di dekat Danau Sidihoni (Sumber foto: www.ninna.id)

Itu adalah bangunan gereja HKBP Sidihoni, yang masuk pelayanan ressort Ronggur Nihuta. Gereja ini berdiri pada tahun 1936, diprakarsai oleh zending HKBP.

Demikianlah sisi lain keunikan Danau Toba. Bila Pulau Samosir adalah pulau di dalam pulau Sumatera, maka Aek Natonang dan Tao Sidihoni adalah dua danau di atas danau Toba.

Setelah puas melintasi jalanan di ketinggian, melalui Huta Ginjang, Ronggur Nihuta , dan Huta Tinggi, kami pun melintasi jalan menuruni bukit. Artinya kami sudah semakin dekat ke jembatan Tana Ponggol untuk menyeberang pulang melalui Tele.

 

Alam kaldera Toba menyajikan pengalaman yang luar biasa. Memadupadankan jiwa dan semangat juang dari warga sekitar danau ini yang keras dan gigih dengan indahnya alamnya yang memukau.

Horas, Mejuah-juah, Njuah-juah.

 

 

sumber: Kompasiana.com

Author: 1toba

Share:

Tinggalkan Balasan