Bahasa Indonesia telah menjalankan perannya sebagai bahasa pemersatu Nusantara selama puluhan tahun. Namun, jauh sebelum bahasa nasional ini digunakan, berbagai suku bangsa di tanah air telah lebih dulu berkomunikasi dan mendokumentasikan kehidupan mereka menggunakan bahasa daerah masing-masing.
Salah satu warisan linguistik di Pulau Sumatera yang memiliki sejarah panjang adalah bahasa Batak, yang memiliki sistem penulisan tradisional bernama Aksara Batak atau Surat Batak. Meski secara aktif digunakan sejak abad ke-18, eksistensi budaya tulisan ini kini kian terpinggirkan dan mulai terlupakan. Oleh karena itu, mari kita telusuri kembali sejarah dan asal-usul Aksara Batak agar keindahan bahasa peninggalan leluhur Nusantara ini tidak hilang ditelan zaman.
Asal-usul dan Karakteristik Surat Batak
Aksara Batak secara historis digunakan untuk menuliskan enam varian rumpun bahasa Batak, yaitu Batak Karo, Toba, Pakpak, Angkola, Simalungun, dan Mandailing. Berikut adalah beberapa karakteristik utama dari aksara ini:
-
Sistem Karakter: Terdapat 19 aksara dasar (ina ni surat) dengan beberapa tambahan aksara varian pada rumpun tertentu.
-
Cara Membaca: Surat Batak ditulis dan dibaca dari arah kiri ke kanan, tanpa menggunakan spasi antar kata.
-
Akar Sejarah: Aksara ini merupakan turunan dari aksara Brahmi (India) dan diyakini pertama kali berkembang di kawasan Angkola-Mandailing.
Dari Angkola-Mandailing, penyebaran Surat Batak bergerak ke arah utara menuju Danau Toba, Simalungun, Pakpak-Dairi, hingga akhirnya tiba di Tanah Karo. Menariknya, di Tanah Karo inilah penggunaan Aksara Batak bertahan paling lama dan paling melekat di masyarakat.
Media Penulisan dan Tradisi Literasi Masyarakat
Kemampuan membaca dan menulis Aksara Batak pada masanya tidak hanya dikuasai oleh kaum bangsawan, melainkan tersebar luas di berbagai lapisan masyarakat. Mereka menggunakan aksara ini untuk berbagai keperluan, mulai dari menulis surat menyurat, merangkai ratapan (seni lisan Batak), hingga menulis pustaha (buku catatan pribadi dan panduan spiritual para pemuka agama atau datu).
Sayangnya, peninggalan fisik dari tulisan ini cukup sulit ditemukan oleh para ahli sejarah. Hal ini disebabkan oleh media penulisan tradisional yang sangat rentan terhadap kerusakan alam. Secara tradisional, nenek moyang suku Batak menulis di atas:
-
Batang bambu
-
Tulang belulang hewan
-
Kulit kayu
Media-media organik tersebut sangat mudah lapuk dan hancur tergerus zaman. Media kertas sendiri baru mulai dikenal dan digunakan pada abad ke-19, sementara kayu tetap menjadi sarana penulisan utama hingga budaya ini mulai meredup.
Pasang Surut Sejarah dan Peran Tokoh Asing
Perkembangan Aksara Batak mengalami dinamika yang luar biasa, terutama saat masuknya pengaruh agama Islam dan Kristen ke wilayah Sumatera Utara. Pada masa-masa awal, banyak naskah kuno Batak yang dimusnahkan karena dianggap sebagai benda-benda atau ajaran kafir, sehingga banyak literatur berharga yang hilang secara permanen.
Meski demikian, tidak semua pengaruh luar berdampak buruk. Beberapa catatan sejarah penting justru terselamatkan melalui:
-
Penelitian Herman Neubronner Van der Tuuk: Pada periode 1849-1857, ahli bahasa asal Belanda ini berhasil mengumpulkan materi komprehensif mengenai tradisi lisan dan tulisan Batak. Hingga detik ini, catatannya masih menjadi rujukan utama dalam studi bahasa Batak.
-
Strategi Misionaris Jerman: Pada tahun 1860, para misionaris Kristen asal Jerman justru menggunakan Aksara Batak untuk menyebarkan agama di Tanah Batak. Langkah ini diambil karena Surat Batak jauh lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat dibandingkan huruf Latin.
Dukungan misionaris ini bahkan memicu berdirinya percetakan spesifik materi Surat Batak antara abad ke-19 hingga ke-20, yang berlokasi di Elberfeld (Jerman) dan Laguboti (pesisir Danau Toba).
Tragedi Pendudukan Jepang dan Nasib Aksara Batak Kini
Masa keemasan percetakan aksara Batak hancur seketika saat masa pendudukan Jepang di Indonesia. Pada tahun 1942, percetakan tulisan Batak di Laguboti dibakar habis oleh tentara Jepang, memusnahkan hampir seluruh buku cetak Batak yang ada di sana. Pascakemerdekaan Indonesia, produksi naskah atau buku beraksara Batak di Sumatera Utara tidak pernah bisa bangkit dan pulih seperti sediakala.
Kondisi hari ini menjadi tantangan besar bagi para peneliti lokal. Melansir dari helloindonesia.id, sekitar 90 persen naskah kuno Aksara Batak yang berhasil selamat justru tersimpan di museum-museum mancanegara. Hal ini menyulitkan akademisi dalam negeri untuk mengakses dan mempelajari peninggalan leluhurnya sendiri.
Kemunduran penggunaan Aksara Batak masih terus terjadi hingga hari ini. Menyadari realitas sejarah yang panjang dan berliku ini, sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai generasi penerus bangsa untuk menggaungkan kembali dan melestarikan Aksara Batak sebagai salah satu identitas budaya Nusantara yang tak ternilai harganya.



Leave a Reply